Wednesday, January 13, 2010

INFO bagi mereka yang belum mengetahui

Bagaimana dengan batu yang merupakan pijakan Nabi saat ber-isra'mi'raj?

Foto asli dari batu yang menjadi pijakan Nabi Muhammad saat ber-Isra' Mi'raj.Ini adalah gambar batu tersebut, Ia berada di Yerusalem, Palestina di wilayah Haram al Quds al Sharif. Batu inilah yang dilindungi dengan bangunan yang kita kenal sebagai simbol Palestina, yaitu Masjid berkubah Emas, Dome of the Rock, atau Qubah al Shakhra atau masjid Kubah Batu. Apakah batu ini melayang? Wallahua'lam.

Batu Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad dan Masjid Kubah Emas

Ada tradisi dan kepercayaan di kalangan kaum muslimin tentang batu yang menjadi titik tolak Nabi Muhammad melakukan Mi’raj ke langit. Batu ini berada di Yerusalem, Palestina. Batu ini benar-benar ada. Ia berada di wilayah yang sekarang disebut sebagai: Mount Temple atau Gunung Kuil oleh orang Yahudi. Disebut demikian karena mereka mempercayai bahwa" Kuil Nabi Sulaiman" pernah dibangun di wilayah tersebut. Bahkan sebagian mempercayai kuil tersebut dibangun di atas batu yang sama. Kaum muslimin menyebut wilayah tersebut sebagai Haram al Quds al Syarif atau Kawasan Suci dan Mulia.

Mereka yang pernah mengunjungi atau melihat bahagian dalam Masjid Kubah Emas ini tentu akan melihat keunikan batu tersebut. Keunikan inilah yang, menurut cerita, kemudian memunculkan legenda tentang batu yang ingin terbang mengikuti Nabi ke langit.

Gamabr gua di bawah batu yang berada di dalam Masjid Kubah Emas (Qubah Sakhra) di Yerusalem, Palestina.

Gambar-gambar di atas adalah foto-foto dari sebahagian dalam Masjid Kubah Emas. Yang kiri memperlihatkan sebuah gapura yang menjadi pintu masuk sebuah ceruk atau gua yang berada di bawah batu. Bahagian atas batu dapat terlihat di belakan gapura tersebut. Di bawahnya terlihat ada orang yang sedang sholat.

Gambar kanan menunjukkan suasana di dalam gua. Terlihat ada tangga yang menghubungkan bahagian luar (gambar kiri) dan bahagian dalam gua. Ada ruangan yang cukup lapang untuk belasan orang di sana. Dari foto terlihat bahwa atap gua cukup tinggi dan mulut gua lebar. Kita dapat bayangkan bila orang duduk di bawah sana dan melihat ke atas, ke arah mulut gua, maka batu yang menjadi atap gua tersebut seolah melayang di udara.

Sumber :.al-habib.info/review/masjid-aqsha-dan-kubah-emas-yerusalem


Tuesday, January 12, 2010

Sujud Tilawah & Ayat Sajadah

SUJUD TILAWAH adalah sujud yang disebabkan karena membaca atau mendengar ayat-ayat sajadah yang terdapat dalam Al Qur’an Al Karim.

Tata Cara Sujud Tilawah:

1. Para ulama bersepakat bahwa sujud tilawah cukup dengan sekali sujud.

2. Bentuk sujudnya sama dengan sujud dalam shalat.

3. Tidak disyari’atkan -berdasarkan pendapat yang paling kuat- untuk takbiratul ihram dan juga tidak disyari’atkan untuk salam.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan,

Sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah tidaklah disyari’atkan untuk takbiratul ihram, juga tidak disyari’atkan untuk salam. Inilah ajaran yang sudah ma’ruf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga dianut oleh para ulama salaf, dan inilah pendapat para imam yang telah masyhur.” (Majmu’ Al Fatawa, 23/165)

4. Disyariatkan pula untuk bertakbir ketika hendak sujud dan bangkit dari sujud. Hal ini berdasarkan keumuman hadits Wa-il bin Hujr, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa mengangkat kedua tangannya ketika bertakbir. Beliau pun bertakbir ketika sujud dan ketika bangkit dari sujud.” (HR. Ahmad, Ad Darimi, Ath Thoyalisiy. Hasan)

5. Lebih utama sujud tilawah dimulai dari keadaan berdiri, ketika sujud tilawah ingin dilaksanakan di luar shalat. Inilah pendapat yang dipilih oleh Hanabilah, sebagian ulama belakangan dari Hanafiyah, salah satu pendapat ulama-ulama Syafi’iyah, dan juga pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah.
Dalil mereka adalah:

“Sesungguhnya orang-orang yang diberi pengetahuan sebelumnya apabila Al Qur’an dibacakan kepada mereka, mereka menyungkur atas muka mereka sambil bersujud.” (QS. Al Isro’: 107).

Kata mereka, yang namanya yakhirru (menyungkur) adalah dari keadaan berdiri.
Namun, jika seseorang melakukan sujud tilawah dari keadaan duduk, maka ini tidaklah mengapa. Bahkan Imam Syafi’i dan murid-muridnya mengatakan bahwa tidak ada dalil yang mensyaratkan bahwa sujud tilawah harus dimulai dari berdiri. Mereka mengatakan pula bahwa lebih baik meninggalkannya. (Shahih Fiqih Sunnah, 1/449)

Bacaan Ketika Sujud Tilawah

Bacaan ketika sujud tilawah sama seperti bacaan sujud ketika shalat

Dari ‘Ali bin Abi Tholib, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika sujud membaca:

Allahumma laka sajadtu, wa bika aamantu wa laka aslamtu, sajada wajhi lilladzi kholaqohu, wa showwarohu, wa syaqqo sam’ahu, wa bashorohu. Tabarakallahu ahsanul kholiqiin.” [Ya Allah, kepada-Mu lah aku bersujud, karena-Mu aku beriman, kepada-Mu aku berserah diri. Wajahku bersujud kepada Penciptanya, yang Membentuknya, yang Membentuk pendengaran dan penglihatannya. Maha Suci Allah Sebaik-baik Pencipta] (HR. Muslim no. 771)

Bolehkah Melakukan Sujud Tilawah di Waktu Terlarang untuk Shalat?

Sujud tilawah boleh dilakukan di waktu terlarang untuk shalat.Alasannya, karena sujud tilawah bukanlah shalat. Sedangkan larangan shalat di waktu terlarang adalah larangan khusus untuk shalat. Inilah pendapat yang lebih kuat di antara pendapat para ulama. Inilah pendapat Imam Syafi’i dan salah satu pendapat dari Imam Ahmad. Pendapat ini juga dipilih oleh Ibnu Hazm. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 1/452)

Bagaimana Jika Ayat Sajadah Berada Di Akhir Surat?

Surat yang terdapat ayat sajadah di akhir adalah seperti surat An Najm ayat 62 dan surat Al ‘Alaq ayat 19. Maka ada tiga pilihan dalam kasus ini.

[Pilihan pertama] Ketika membaca ayat sajadah lalu melakukan sujud tilawah kemudian setelah itu berdiri kembali dan membaca surat lain kemudian ruku’.
Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh ‘Umar bin Khaththab. Ketika shalat shubuh, beliau membaca surat Yusuf pada raka’at pertama. Kemudian pada raka’at kedua, beliau membaca surat An Najm (dalam surat An Najm terdapat ayat sajadah, pen), lalu beliau sujud (yaitu sujud tilawah). Setelah itu, beliau bangkit lagi dari sujud kemudian berdiri dan membaca surat “Idzas samaa-un syaqqot” (Diriwayatkan oleh ‘Abdur Rozaq dan Ath Thohawiy dengan sanad yang shahih)

[Pilihan kedua] Jika ayat sajadah di ayat terakhir dari surat, maka cukup dengan ruku’ dan itu sudah menggantikan sujud.
Ibnu Mas’ud pernah ditanyakan mengenai surat yang di akhirnya terdapat ayat sajadah, “Apakah ketika itu perlu sujud ataukah cukup dengan ruku’?” Ibnu Mas’ud mengatakan, “Jika antara kamu dan ayat sajadah hanya perlu ruku’, maka itu lebih mendekati.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dengan sanad yang shahih)

[Pilihan ketika] Jika ayat sajadah di ayat terakhir di suatu surat, ketika membaca ayat tersebut, lalu sujud tilawah, kemudian bertakbir dan berdiri kembali, lalu dilanjutkan dengan ruku’ tanpa ada penambahan bacaan surat.
Dari tiga pilihan di atas, cara pertama adalah yang lebih utama. (Lihat Shahih Fiqih Sunnah, 453-454)

Di Mana Sajakah Ayat Sajadah?

Ayat sajadah di dalam Al Qur’an terdapat pada 15 tempat. Sepuluh tempat disepakati. Empat tempat masih dipersilisihkan, namun terdapat hadits shahih yang menjelaskan hal ini. Satu tempat adalah berdasarkan hadits, namun tidak sampai pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, akan tetapi sebagian melakukan sujud tatkala bertemu dengan ayat tersebut. (Lihat pembahasan ini di Shahih Fiqih Sunnah, 1/454-458)

Sepuluh ayat yang disepakati sebagai ayat sajadah

1. QS. Al A’rof ayat 206
2. QS. Ar Ro’du ayat 15
3. QS. An Nahl ayat 49-50
4. QS. Al Isro’ ayat 107-109
5. QS. Maryam ayat 58
6. QS. Al Hajj ayat 18
7. QS. Al Furqon ayat 60
8. QS. An Naml ayat 25-26
9. QS. As Sajdah ayat 15
10. QS. Fushilat ayat 38 (menurut mayoriti ulama), QS. Fushilat ayat 37 (menurut Malikiyah)

Empat ayat yang termasuk ayat sajadah namun diperselisihkan, akan tetapi ada dalil shahih yang menjelaskannya

1. QS. Shaad ayat 24
2. QS. An Najm ayat 62 (ayat terakhir)
3. QS. Al Insyiqaq ayat 20-21
4. QS. Al ‘Alaq ayat 19 (ayat terakhir)

Satu ayat yang masih diperselisihkan dan tidak ada hadits marfu’ (hadits yang sampai pada Nabi) yang menjelaskannya, yaitu surat Al Hajj ayat 77.
Banyak sahabat yang menganggap ayat ini sebagai ayat sajadah semacam Ibnu ‘Umar, Ibnu ‘Abbas, Ibnu Mas’ud, Abu Musa, Abud Darda, dan ‘Ammar bin Yasar.

Ibnu Qudamah mengatakan,

“Kami tidaklah mengetahui adanya perselisihan di masa sahabat mengenai ayat ini sebagai ayat sajadah. Maka ini menunjukkan bahwa para sahabat telah berijma’ (bersepakat) dalam masalah ini.” (Al Mughni, 3/88)

Demikian pembahasan mengenai sujud tilawah. Semoga risalah ini menjadi panduan dan tambahan ilmu bermanfaat bagi kita sekalian. Ya Allah, berilah manfaat terhadap apa yang kami pelajari, ajarilah ilmu yang belum kami ketahui dan tambahkanlah selalu ilmu kepada kami.

Sumber dari Al Faqir Ilallah: Muhammad Abduh Tuasikal



Sunday, January 10, 2010

SELAWAT NABI

SELAWAT TAFRIJIYAH atau Selawat NARIYAH


See full size image

Selawat Tafrijiyah atau dipanggil juga Selawat Nariyah ini bermaksud "membuka ikatan" yang bertujuan untuk memohon agar segala hajat kita dimakbulkan Allah SWT


Friday, January 8, 2010

SOLAR ECLIPSE

GERHANA MATAHARI DIJANGKA PADA 15 JAN 2010

SOLAT SUNAT GERHANA MATAHARI DAN GERHANA BULAN

Solat Gerhana disebut di dalam bahasa arab dengan khusuf (الخُسُوفِ ) bagi bulan dan kusuf (الكُسُوفِ ) bagi matahari, iaitu hilangnya cahaya bulan atau matahari.Ia bukanlah berlaku kerana kemurkaan Allah swt, tetapi merupakan petanda kepada kebesaran kekuasaan Allah swt. Ia juga berupaya menjadi peringatan kepada manusia tentang azab dan nikmat yang dijanjikan Allah swt pada hambanya kerana fenomena gerhana ini sangat besar ertinya samada dari penghayatan iman dan sains. Ia bukan fenomena baru yang hanya berlaku pada akhir zaman ini tapi telah berlaku sejak alam ini dijadikan dan juga pada zaman Nabi saw yang dikenali sebagai sebaik-baik kurun.Dalilnya :Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Aisyah r.a. bahawa Nabi SAW bersabda:

إِنَّ الشَّمْسَ وَالقَمَر َ آيَتَانِ مِنْ ايَاتِ اللهِ لاَيَخْسِفَان ِ لِمَوت ِ أَحَدٍ وَلاَ لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ

ذلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا وَتَصَدَّقُوا وَصَلُّوا

Maksud: Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua macam tanda dari tanda-tanda kekuasaan Allah. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah kerana kematian seseorang atau kehidupannya. Maka jikalau kamu melihatnya, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, bersedekahlah serta bersembahyanglahDalilnya :

عن ابن مسعود الانصارقال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : (إن الشمس والقمر آيتان من آيات الله. يخوف بهما عباده. وَاِنَّهُمَا لا ينكسفان لموتِ أحد مِنَ النَّاسِ. فإذا رأيتم منها شيئا. فصلوا وادعوا الله يكشف ما بكم.

Maksud: Dari Abu Mas’ud Al Ansari beliau berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya matahari dan rembulan (bulan) adalah dua di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya (kalau sedang gerhana) oleh Allah digunakan untuk menakuti para hambaNya. Dan keduanya tidaklah gerhana lantaran kematian seseorang di antara manusia. Kerana itu, apabila kalian melihatnya, maka lakukanlah solat dan berdoalah kepada Allah sampai hal yang menakutkan itu hilang”

Solat Khusuf/Kusuf adalah sunat Muakkad sama ada bagi orang yang bermukim atau bermusafir, merdeka atau hamba, lelaki atau perempuan dan sama ada ditunaikan secara berjamaah atau bersendirian.

i. Bagi solat Gerhana Matahari waktunya bermula apabila ternyata berlaku gerhana dan berakhir dengan hilangnya gerhana itu, dan sehingga jatuh matahari dan gerhana tersebut. Sekiranya gerhana berlaku ketika atau selepas terbenam matahari, maka tidak ada solat gerhana.

ii. Bagi Solat Gerhana Bulan waktunya bermula apabila ternyata berlakunya gerhana bulan dan berakhir dengan hilang gerhana dan naik matahari. Tidak dikira dengan naik fajar atau jatuhnya pada malam dengan gerhananya. Sekiranya berlaku gerhana bulan ketika terbenamnya, dan sebelum terbit fajar maka dibolehkan solat. Tetapi jika terbenamnya bulan sesudah terbit fajar, maka terdapat dua pendapat iaitu :

i. Qaul Qadim : Tidak ada solat gerhana kerana kekuasaan bulan telah hilang bila terbit fajar (subuh ).

ii. Qaul Jadid : Ada solat gerhana kerana kekuasaan bulan masih ada sehinggalah terbit matahari ( syuruk ).

* Di dalam mazhab Syafie dibolehkan bersolat walaupun ketika berlaku gerhana tersebut adalah waktu tahrim.

Boleh dilakukan di mana-mana samada di rumah, musolla, surau atau masjid. Walau bagaimanapun yang afdhal ialah masjid yang didirikan Jumaat.

i. Lafaz Niat Solat Sunat Gerhana Matahari :

أُصَلِّى سُنَّةَ الكُسُوفِ رَكْعَتَينِ للهِ تَعَالَى

Ertinya : “ Sahaja aku solat sunat gerhana matahari dua rakaat kerana Allah Taala.”

i. Lafaz Niat Solat Sunat Gerhana Bulan

أُصَلِّى سُنَّةَ الخُسُوفِ رَكْعَتَينِ للهِ تَعَالَى

Ertinya : “ Sahaja aku solat sunat gerhana bulan dua rakaat kerana Allah Taala.”

i. Solat gerhana dilakukan sekurang-kurangnya 2 rakaat seperti solat sunat biasa. Ia adalah yang sekurang-kurangnya. Yang akmalnya dilakukan dengan dua kali ruku’ dan 2 kali qiyam, pada tiap-tiap satu rakaat dengan tidak dipanjangkan bacaan pada kedua-dua rakaat.

ii. Yang terlebih akmal ialah dengan 2 rakaat, dengan 2 ruku dan qiyam bagi tiap-tiap satu rakaat dengan dipanjangkan bacaan pada kedua-dua rakaat.

Kaifiatnya adalah seperti berikut:

Berdasarkan hadis :Maksud: Dari Aisyah r.a. berkata: “Sesungguhnya Rasulullah SAW berdiri (di masjid) pada hari terjadi gerhana matahari, lalu baginda mengadakan solat gerhana dan membaca bacaan yang panjang (seukur seratus ayat surah al-Baqarah), kemudian beliau mengangkat kepala dan mengucapkan Sami’ Allahhu Liman Hamidah, dan beliau berdiri lalu membaca bacaan yang panjang, sedang bacaan (dalam berdiri yang kedua) ini sedikit berkurang daripada bacaan yang pertama,Kemudian beliau ruku’ dengan ruku’ yang panjang, sedang ruku’ ini berkurang dari ruku’ pertama,

kemudian beliau sujud dengan sujud yang panjang (bertasbih seukur bacaan seratus ayat), kemudian beliau bertindak sepadan demikian (rakaat pertama) itu pada rakaat yang akhir (kedua), Selanjutnya beliau mengakhiri solatnya dengan salam, sedang gerhana matahari telah berakhir. Lalu baginda berkhutbah kepada manusia: “Pada gerhana matahari dan bulan, sesungguhnya keduanya adalah dua tanda (kebesaran) di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidaklah terjadi gerhana kerana kematian seseorang pula tidaklah kerana kehidupan seseorang. Maka apabila kalian melihat keduanya (gerhana) maka bersyukurlah kepada solat gerhana” (Riwayat Bukhari 4-hlm: 358)

Maksud: Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash, beliau berkata: “Tatkala matahari gerhana pada masa Rasulullah SAW, maka diserukan : ‘as solatu jami`ah’. Lalu Rasulullah SAW melakukan dua kali ruku’ dalam satu rakaat. Kemudian berdiri lagi dan melakukan dua kali ruku’ dalam satu rakaat. Kemudian matahari kembali muncul. Aisyah berkata: “Aku sama sekali tidak pernah melakukan ruku’ ataupun sujud yang lebih lama daripada itu”(Sahih Muslim 2-hlm: 81)

Secara ringkasnya seperti berikut :

1. Takbiratul Ihram.

2. Membaca doa iftitah.

3. Membaca Ta`awudz. ( تعاوز )

4. Membaca surah al-Fatihah.

5. Membaca mana-mana surah, yang terlebih afdhal surah al-Baqarah.

6. Ruku’ dan membaca tasbih kira-kira membaca 100 ayat.

7. Iktidal serta membaca surah al-Fatihah dan membaca surah ali-Imran atau mana-mana surah.

8. Ruku' dangan membaca tasbih kira-kira membaca 90 ayat.

9. Iktidal.

10. Sujud dan membaca tasbih.

11. Duduk antara 2 sujud.

12. Sujud kembali.

13. Berdiri ke rakaat kedua.

b. RAKAAT KEDUA.

1. Membaca surah al-Fatihah.

2. Membaca surah al-Nisa’ atau mana-mana surah.

3. Ruku’ dan membaca tasbih kira-kira membaca 70 ayat semasa ruku’.

4. Iktidal serta membaca surah al-Fatihah dan baca surah al-Maidah

atau mana-mana surah.

5. Ruku' dangan membaca tasbih kira-kira membaca 50 ayat.

6. Iktidal.

7. Sujud dan membaca tasbih.

8. Duduk antara 2 sujud.

9. Sujud kembali.

10. Membaca tasyahud akhir.

11. Memberi salam.

* Tidak perlu iqamah tapi cukup sekadar ucapan : ( الصِّلاَةُ جَامِعَةً )

* Sunat menyaringkan suara pada bacaan Fatihah dan surah ketika solat sunat gerhana bulan dan perlahan ketika solat sunat gerhana matahari.

* Disunatkan mandi untuk solat gerhana, seperti hendak solat Jumaat.

Khutbah Solat Gerhana :

Dalil dari Aisyah r.a. berkata :

Ertinya : Selanjutnya beliau mengakhiri solatnya dengan salam, sedang gerhana matahari telah berakhir. Lalu baginda berkhutbah kepada manusia: “Pada gerhana matahari dan bulan, sesungguhnya keduanya adalah dua tanda (kebesaran) di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidaklah terjadi gerhana kerana kematian seseorang pula tidaklah kerana kehidupan seseorang. Maka apabila kalian melihat keduanya (gerhana) maka bertandanglah kepada solat gerhana”(Riwayat Bukhari 4-hlm: 358)

i. Sunat membaca khutbah selepas solat sunat, walaupun gerhana sudah hilang.

ii. Khutbahnya seperti khutbah hari raya tetapi tidak sunat bertakbir.

iii. Isi khutbah hendaklah menyuruh para jemaah bertaubat, bersedekah, memerdekakan hamba, berpuasa, mengingati manusia supaya tidak lalai, jangan leka dengan dunia dan sebagainya.

iv. Jika solat itu hanya terdiri dari wanita semata-mata, maka tidak perlu khutbah.

Secara umumnya bila pertembungan ini berlaku maka kaedahnya didahulukan yang paling ringan. Sekiranya sama nilainya, maka didahulukan yang paling kuat.

Contoh :

i. Jika pertembungan berlaku di antara solat gerhana dengan solat jenazah maka didahulukan solat jenazah.

ii. Jika pertembungan berlaku di antara solat gerhana dengan solat fardhu di awal waktu maka didahulukan solat gerhana kerana dibimbangi matahari atau bulan kembali cerah. Tetapi jika berlaku pertembungan itu diakhir waktu solat fardhu maka didahulukan solat fardhu.

iii. Jika pertembungan berlaku di antara solat gerhana dengan witir didahulukan solat gerhana.

Sumber :mufti.perak.gov.my

Matla’ Badrain.

Abu Ishaq Bin Ali Bin Yusuf al-Fairuzabadi, Al-Muhazzab, Juz 1, terj : Ali Achmad, Muhammad Yasin, Abdullah & Huda, Perniagaan Jahabersa. Perniagaan Jahabersa.

Ust Hj. Fadzil Hj. Ahmad. Hidup Ibadat , Pusat Pemasaran Motivasi, K.L

Dr. Abdul Karim Zaidan, Ensiklopedia Hukum wanita dan keluarga, Kajian mendalam masalah wanita & keluarga dalam perspektif syariat Islam. Pustaka Dini.

Wednesday, January 6, 2010

Isu Kalimah ALLAH -Part 2 oleh Prof Datuk Dr.Haron Din

Tuesday, January 5, 2010

Isu Kalimah ALLAH- Part 1 oleh Prof Datuk Dr Haron Din

Islamic Daily Life- Must Read


Islamic Daily Life

  • Have you prayed Subuh, every day with the Jemaah in the Masjid?

  • Did you perform all of the prayers daily inside the Masjid, with the Jemaah?

  • Did you read Al-Quran today?

  • Did you mention Allah and Glorify Him after each prayer?

  • Did you keep the Solat Sunat before or after each prayer?

  • Were you concentrating daily on your prayers by meditating on what you said in your prayers?

  • Have you remembered Death and the Tomb today?

  • Have you thought about the Day of Judgment and its overwhelming hardship?

  • Have you asked Allah three times to permit you into Paradise? Because if you say: Oh Allah, permit me into Paradise- three times, the Paradise will reply: Oh Allah, allow him/her to enter me. (Tarmizi)

  • Have you asked Allah to protect you from the Hellfire today, three times? If you did the Hellfire will say: Oh Allah, protect him/her from me. (Tarmizi)

  • Did you read a Hadith about the Rasullulah S.A.W today?

  • Haven't you thought about being away from those who are evil doers?

  • Have you tried to avoid laughing and joking too much or too often?

  • Did you thank Allah for bestowing on you the hearing, sight, good heart, and all the other gifts?

  • Did you pay charity today to the poor and needy?

  • Did you get angry for your own sake or for the sake of Allah?

  • Did you avoid arrogance and self-admiration?

  • Have you cried today out of the fearness of Allah?

  • Did you mention Allah after Subuh or Isyak prayer?

  • Have you asked Allah to forgive you from the sins and transgressions that you have committed, by making (Astaghfirullah) seeking forgiveness from sins?

  • Did you ask Allah sincerely and honestly today to grant you Syahadat (martyrdom)? The Prophet (p.b.u.h) said: "The one who asks Allah sincerely to grant him/her Shahadat, Allah will grant it to him/her even though he/she dies in his/her bed. (Muslim)

  • Did you ask Allah to stabilize your heart and you religion?

  • Did you take the opportunity to make doa (supplication) in the hours that Allah accepts them?

  • Did you buy a new Islamic book for the sake of learning from it the knowledge of the religion?

  • Did you seek forgiveness for the Believers, men and women, alive or dead, because if you did, Allah will reward you for each of them.

  • Did you thank Allah for His Blessings on you, by making you Muslim and for the Blessings of Islam?

  • Did you visit a brother or sister for the sake of Allah?

  • Did you invite people to Allah, your family, your brothers, sisters, or neighbors, or those whom you have been in contact with?

  • Were you kind to your parents today?

  • Have you faced a problem and did you say: Inna lillaahi wa innaa ilaihir raaji'oon (By Allah we are created and to Him we shall return)?

  • Have you made doa by saying,"Oh Allah, I seek refuge in You, from the things I have committed wrongfully and knowingly. And I seek forgiveness for the things that I have committed without my knowledge." If you say this, Allah will wipe off the big sins and the small sins.

We are not perfect, check our self and if you don't, start it from now
Wallahualam

The meaning of Syahadah

The Syahada, also spelled syahadah, (Arabic: الشهادة aš-šahāda About this sound audio from the verb šahida "to witness" [technically, to know and believe without suspicion, as if witnessed] ) is the Islamic creed.
The Syahada is the Muslim declaration of belief in the oneness of Allahu ta'âlâ and acceptance of Muhammad as his prophet.
The declaration reads: lâ ilâha illallâh, Muḥammadun rasûlullâh "There is no god but Allah, and Muhammad is the Messenger of Allah" in English.
This declaration, or statement of faith, is called the Kalima, which literally means "word". Recitation of the Shahadah is the most important of the Five Pillars of Islam for Muslims. Non-Muslims wishing to convert to Islam do so by a public recitation of the creed.

Kalimat ALLAH dilautan

Allah's Name Appears over the ocean from Satelite

Monday, January 4, 2010

EXTREMEN COFFEE
Berita Baik untuk penjagaan kesihatan dan khas untuk kaum Adam
Untuk membelinya kenalah jadi ahli dulu dengan bayaran RM280.00 dan anda akan diberi satu starter pack didalamnya mengandungi 10 paket (20gm each) dan anda boleh terus mengguna dan menjana wang dengan memperkenalkan kepada rakan anda....semuga berjaya.Untuk keterangan lanjut sila hubungi En Faisal H/P: 0166756388,0136143007,0193509338 atau email:lemanjo@yahoo.ca Produk ini tidak terdapat dipasaran cuma untuk ahli sahaja.